Ada beberapa Kitab injil yang banyak persamaannya dengan Al-Quran, contohnya injil Barnabas. Namun kitab ini tidak diakui oleh gereja, sehingga ditarik dari peredaran dan dimusnahkan. Pada tahun 1709, seorang penasehat raja Prusia bernama Cremer Toland menemukan naskah tertua Injil Barnabas dalam bahasa italia yang tersimpan di perpustakaan wina. Beberapa petikan persamaannya yaitu : Nabi Isa as. tidak disalib sebab berhasil diselamatkan malaikat dan diangkat ke langit. Yang disalib adalah Yudas Iskariot yang oleh Tuhan, rupa dan suaranya disamakan dengan Nabi Isa as. (Pasal 215-217) Nabi Isa as. bukanlah anak Allah, Bukan Tuhan tetapi utusan Allah. Putra nabi Ibrahim as. yang akan disembelih karena perintah Allah adalah Ismail, bukan Ishaq seperti yang tersebut dalam Perjanjian lama. Dari banyak persamaan tersebut, menimbulkan persepsi bagi gereja bahwa kitab tersebut bukanlah ditulis oleh Barnabas (salah satu dari ke 12 hawariun/sahabat) tetapi ditulis oleh orang Islam pada masa lalu sehingga banyak mengandung ajaran tauhid dalam Al-Qur’an, inilah alasan gereja menolak kitab tersebut. Tetapi mengapa terjadi banyak penulisan injil yang berlainan antara penulis satu dengan lainnya, termasuk didalam tiga dari empat injil yang ditulis oleh Matius, Markus, dan Lukas, dan dikenal sebagai injil sinoptik, yang diyakini umat nasrani bahwa ketiganya menampilkan banyak kesamaan dalam isi, penyusunan narasi, bahasa, struktur kalimat, paragraf dan memiliki sudut pandang yang sama. Sedangkan Injil kanonik keempat, Injil Yohanes, memiliki perbedaan dibandingkan ketiga injil terdahulu. Gereja menjelaskan bahwa setiap Injil menggambarkan kehidupan Yesus dari sudut pandang yang berbeda. Secara khusus, Injil Yohanes bukanlah suatu biografi Yesus tetapi sebuah penjelasan teologis mengenai Yesus dari segi KeTuhanan-Nya. Markus menjelaskan Yesus sebagai seseorang yang heroik, karismatik dan memiliki kekuasaan yang tinggi. Matius menggambarkan Yesus khususnya sebagai pemenuhan nubuatan Yahudi. Lukas menekankan perbuatan-perbuatan ajaib yang Yesus lakukan serta dukunganNya terhadap wanita dan kaum miskin. Yohanes memandang kehidupan Yesus di bumi sebagai perwujudan Firman Tuhan. Injil Yohanes dimulai dengan suatu sajak yang memperkenalkan Yesus sebagai perwujudan Firman Allah, yang membentuk alam semesta (Yoh 1:1-5;9-14). Seluruh kehidupan Yesus di bumi adalah inkarnasi dari Firman Allah (Yoh 1:4). Tetapi bukankah penulisan dari masing-masing orang dengan sudut pandang yang berbeda akan menimbul persepsi yang berbeda pula kepada setiap yang orang yang mengimaninya, sedangkan hal ini telah banyak terbukti dalam sejarah tentang perbedaan persepsi tersebut. Hal ini terjadi karena penyimpangan ajaran tauhid dalam kitab injil sendiri, bermula dari kejahilan seorang yahudi keturunan suku benjamin bernama Saul yang sering dikenal dengan nama Paulus. Sebenarnya ia adalah penganut paham farisi yang sangat fanatik dan anti ajaran Nabi Isa as, bahkan ia sendiri termasuk penentang Nabi Isa as. Ketika Nabi Isa as. sudah diangkat ke langit, Paulus justru turut membasmi pengikut Al-Masih sehingga ia amat dibenci oleh para pengikut Nabi Isa as. Namun karena kepiawaian Paulus dalam berkata-kata, akhirnya ia dapat meyakinkan umat nasrani bahwa ia adalah utusan Tuhan. Dia menjadi jemaat Kristen setelah mengaku bertemu dengan cahaya di langit yang konon namanya adalah Nabi Isa as. (Kisah 9 : 3-7). Kemudian ia secara bertahap mengubah ajaran Nabi Isa as. dan kemudian ia menyebarkan ajaran baru yang telah dirubah itu. Paulus memiliki peranan terbesar dalam pembentukan dogma agama Kristian, antara lain 7 dogma di bawah ini. Konsep Tuhan Anak. Menurut Paulus, Allah Bapa yang berada di surga itu mempunyai anak yang sudah ada sebelum segala sesuatu ada dan segalanya dicipta melaluinya (1 Korintus 8:6; Kolose 1:5; 1 Timotius 2:5) Inkarnasi. Menurut Paulus, Nabi Isa as. telah melakukan inkarnasi di bumi melalui benih Daud (Roma 1:3-4; Galatia 4:4-5; Kolose 1:15; dan Ibrani 1:3). Dengan demikian, Paulus telah mendoktrinkan bahwa Nabi Isa as. adalah anak Yusuf dan Maryam sebagaimana silsilah yang ditulis oleh Matius (Mat. 1:1-16). Paulus mengatakan bahwa Nabi Isa as. dalam wujudnya sebagai manusia berasal dari benih Daud (Roma 1:3). Jadi Paulus secara tidak langsung menuduh Yusuf dan Maryam bersetubuh hingga melahirkan Nabi Isa As. Dosa Waris. Menurut Paulus, manusia ini sebenarnya hidup kekal di surga, tetapi kerana kesalahan Adam, maka Adam diturunkan ke bumi. Dosa yang telah diperbuat oleh Adam itu terus dipikul oleh keturunannya (Roma 5:12-18; 1 Korintus 15:21-26). Penyaliban dan Penebusan. Menurut Paulus, Nabi Isa as. menyerahkan dirinya untuk berkorban hingga mati ditiang salib (1 Korintus 1:18-23; Roma 5:8; 1 Timotius 1:15). Pengorbanan Nabi Isa as. adalah untuk menebus dosa manusia. Oleh kerana itu setiap orang harus beriman kepada penyaliban dan penebusan dosa ini, agar memperoleh hidup kekal dan kembali pada hari kemudian (Roma 5:18; 6:10-11; 2 Korintus 5:14; 1 Timotius 2:6). Konsep Kebangkitan. Nabi Isa as. bangkit dari kematian setelah dikubur selama tiga hari. Maka dari itu semua orang harus percaya bahwa Nabi Isa as. telah bangkit dan hidup kekal. Siapa yang percaya akan memperoleh hidup yang kekal pula (Roma 6:4-18; 1 Korintus 15:17-20; 15:4; 2 Timotius 2:8). Tuhan Nabi Isa as. Setiap orang harus yakin bahwa Nabi Isa as. adalah Tuhan (Roma 10:9). Dengan adanya dasar dogma seperti ini, pada gilirannya melahirkan doktrin Trinitas yang menetapkan bahwa Tuhan terdiri dari 3 oknum, Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus. Dari semua konsep dogma agama yang telah diajarkan Paulus itu, ternyata hanya kebohongan belaka. Sebagaimana yang dikatakannya sendiri dalam suratnya kepada jemaat di Roma 3:7 seperti berikut: “Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” (Roma 3:7) Demikianlah Saul yang berganti nama menjadi Paulus setelah dia berhasil mengambil peranan dalam ajaran Nabi Isa as. Dia tidak pernah melihat Nabi Isa as. dan tidak pernah bertemu dengan Nabi Isa as. secara langsung, sebagaimana para murid (pengikut Nabi Isa as) yang lainnya, tapi dia mengatakan bahwa ia mempunyai hubungan langsung dengan Nabi Isa as, dengan demikian tidak ada hak bagi siapa saja untuk menentangnya terhadap ajaran-ajaran yang dikatakannya langsung diterima dari Almasih. Kehadiran Paulus di tengah-tengah para murid Nabi Isa as. adalah berkat jasa Barnabas, dan ini berarti Barnabas memiliki pengaruh yang sangat penting di kalangan para murid Nabi Isa as. yang lainnya sehingga mereka patuh terhadap keputusannya. Maka sangatlah mungkin menjadi alasan adanya kehidupan Barnabas dicatat dengan terperinci pada kitab Kisah Para Rasul. Dan sifat hubungan antara Barnabas dan Paulus ditunjukkan dalam Kisah 13:1-2 sebagai berikut : “Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang Kutentukan bagi mereka.” Dalam daftar para pengikut Nabi Isa as, Lukas menyebut Barnabas dalam urutan pertama dan Saul/Paulus dalam urutan terakhir. Kerana telah terpilih untuk bekerjasama, maka para Sahabat Nabi Isa as. menyebar, sedangkan Barnabas dan Paulus berangkat bersama Markus untuk menyebarkan ajaran Nabi Isa as. di Yunani. Sementara James, putera Mariam dari suami Yusuf, ditinggal sebagai ketua para pengikut Nabi Isa as. dan Peter juga tetap tinggal. Dalam kitab kisah Rasul diceritakan, di samping mereka kadang-kadang dilempari batu di beberapa tempat, dua orang penyebar agama tersebut sangat berhasil. Reputasi mereka sebagai manusia-manusia pelayan Tuhan tersebar luas. Ketika mereka sampai ke Lucaonia dan menyembuhkan seorang yang pincang, terdapat desas-desus bahwa dewa-dewa telah diturunkan kepada mereka dalam bentuk manusia. Mereka memanggil Barnabas dengan sebutan Jupiter dan Paulus dengan sebutan Mercuries. Kemudian para pendeta (penyembah) Jupiter membawa binatang ternak dan karangan bunga kepintu-pintu gerbang, dan akan melakukan pengorbanan bersama orang-orang banyak. Maka ketika para rasul tersebut, Barnabas dan Paulus, mendengar tentang hal tersebut, mereka segera lari ke kumpulan orang yang sedang berteriak-teriak : “Dan mereka berdua berkata :’Tuan-tuan, mengapa anda melakukan semua ini? Kami berdua juga manusia yang ingin membagi kasih dengan saudara, dan mengajarkan kepada anda tentang Tuhan Yang Maha Hidup yang telah menciptakan langit dan bumi, laut dan segala sesuatu yang ada didalamnya’” (Kisah 14 : 15) Jika reaksi dari penduduk Yunani adalah seperti ini (yang menganggap Barnabas dan Paulus sebagai dewa berupa manusia), maka hal ini menandakan bahwa kedua-duanya mengalami masalah dalam menyebarkan ajarannya. Seorang yang mengenali Nabi Isa as. akan sangat mudah mengenali bahwa ajarannya merupakan sambungan dari ajaran Musa. Tetapi bagi kebanyakan penyembah berhala, ajaran ini dipandang baru dan aneh. Semua penyembah berhala, yang mengakui banyak dewa tetap mempercayai bahwa Tuhan itu beragam. Bagi orang-orang Yunani, penggambaran tentang Nabi Isa as, sesuai dengan salah satu dewa mereka, dan mungkin sekali mereka siap untuk menerima ajaran Nabi Isa as. dalam penggambaran seperti ini. Sebab bagi pemahaman mereka, tetap ada ruang untuk lebih dari satu. Ajaran Nabi Isa as. mengenai konsep tauhid adalah suatu bentuk penghapusan semua dewa-dewa yang bermacam-macam itu. Ajaran inilah yang tidak dapat diterima oleh mereka. Bagi orang yang setulus dan seteguh Barnabas, tugas menciptakan cara hidup yang diajarkan Nabi Isa as. di Yunani tanpa menyesuaikan diri dengan lingkungannya, pastilah sangat berat. Bagi Paulus, yang telah memperlihatkan kecenderungannya merubah ajaran yang diketahuinya, melihat kesempatan untuk berdakwa dengan terlebih dahulu menggunakan kepercayaan orang-orang Yunani tersebut dan ditamsilkan ke dalam Nabi Isa As. Saat itu Yunani telah menjadi sebagian dari kekaisaran Romawi. Dewa-dewa Romawi banyak memiliki kemiripan dengan dewa-dewa yang dianut oleh orang Yunani. Dan Paulus adalah orang yang sangat pandai memanfaatkan situasi, dia menyadari sepenuhnya keteguhan kepercayaan dalam agama Greeco-Roman (campuran Yunani dan Romawi) dari rakyat awam didalam kekaisaran Romawi tersebut. Jelas terlihat bahwa ia merasa tidak mungkin merubah cara ibadah mereka tanpa merubah ajaran Nabi Isa As. Di sisi lain sebagaimana tercatat dalam Matius 5:18, bahwa Nabi Isa as. mengetahui bahwa penciptaanya/kelahirannya tidak menginginkan hukumnya dikurangi dan diubah sekecil mana pun. Untuk itu Barnabas tetap berpegang teguh pada ajaran yang pernah diterima langsung olehnya. Akhirnya mereka berdua, Barnabas dan Paulus lebih banyak bersilang pendapat. Tercatat dalam Kisah Rasul 15 : 39-40: “Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus berlayar ke Siprus.” Barnabas tercatat pada kisah Rasul, bahwa dia telah dipilih oleh Roh Kudus untuk menyebarkan ajaran Nabi Isa as, tetapi perkara ini ditolak oleh Paulus. Kedudukan Paulus telah cukup kuat dan dia tidak perlu lagi bergantung pada Barnabas. Lebih jelas lagi, Paulus adalah warga negara Romawi dan bisa berbahasa Romawi, juga bisa berbahasa Yunani sebagai bahasa resmi daerah kelahirannya, Tarsus. Surat-surat yang ditulisnya pada masa berikutnya kepada komunitas-komunitas Kristen di Yunani pastilah ditulis dalam bahasa ibundaya. Ini jelas apabila Paulus pergi ke Yunani dan Itali tanpa mengalami kesulitan dalam bahasa. Barnabas pada masa yang sama, tidak pandai berbicara dalam kedua bahasa tersebut. Markus yang bisa berbahasa Yunani, harus menyertainya pada perjalanan misi pertamanya ke Yunani sebagai penterjemah. Jika Barnabas pergi sendirian, maka ia tidak akan diterima dan dipahami masyarakat. Oleh sebab itu penolakan Paulus untuk bepergian bersama Markus kerana khawatir akan terbongkar penyimpangan Paulus pada saat berdakwah, sehingga Barnabas akan mencegahnya. Di dalam buku “History of Christianity in the Apostolic Age” (hal. 216, 231, 424-25), A.G Mc Giffert berkata: “Barnabas … yang haknya untuk bekerja (menyebarkan agama) dikalangan orang-orang zuhud telah diakui di Yerusalem …(kemudian) ia harus kembali dan memisahkan dirinya dari mereka (orang-orang zuhud) sangatlah aneh. Barnabas tidak menyetujui doktrin Paulus tentang kebebasan orang-orang Kristen dari segala bentuk hukum (sebelumnya; agama Musa)… perpisahan Paulus dan Barnabas dinyatakan oleh penulis kitab kisah Rasul sebagai akibat dari pertikaian mereka yang menyangkut Markus.” Tetapi alasan sebenarnya jauh lebih dalam dari pada alasan tersebut, orang yang paling dekat dengan Paulus dan sangat intim bergaul dengannya pada masa-masa awal karirnya sebagai orang Kristen adalah Barnabas, yang merupakan seorang anggota dari gereja di Yerusalem pada masa permulaan. persahabatannya sangat berarti bagi Paulus dan pasti memiliki andil dan pengaruh yang tidak kecil terhadap orang-orang Kristen. Barnabas bertindak sebagai pendukung Paulus dimasa awal. Padahal sebelumnya, Paulus adalah penyiksa orang-orang Kristen yang tak pernah terlupakan. Perubahan sikap Barnabas terhadap Paulus hanya terjadi sebagai akibat pengalaman-pengalamannya selama dia bersama dengan Paulus. Segala harapannya agar Paulus mengubah pandangannya dan benar-benar menjadi pengikut Nabi Isa as. telah sirna. Barnabas telah menyedari kesalahan dalam tindakannya, maka dia pergi meninggalkan Paulus. Tampaknya pengalamannya di Antiokia jauh lebih berhasil kerana terdapat orang-orang zuhud yang datang kepada para pengikut Nabi Isa as. dan meminta untuk diterima sebagai orang-orang Kristen. Tetapi ketika Barnabas dan Paulus datang ke Yunani, justru mereka berdua yang meminta orang-orang untuk menjadi Kristen. Tidak terdapat catatan tentang apa yang terjadi setelah Barnabas kembali ke Cyprus. Pengaruh Barnabas terhadap para murid Nabi Isa as. dan pengikut lainnya telah dipastikan oleh Al-Kitab sendiri. Barnabas dipanggil sebagai seorang nabi, guru dan juga seorang murid Nabi Isa as. oleh Lukas yang kesetiaannya kepada Paulus tidak diragukan lagi. Setelah Barnabas kembali ke Cyprus, Paulus meneruskan misinya. Sekalipun ia telah cukup lama bergaul dengan orang-orang Kristen awal yang membuat ia bisa diterima dikalangan mereka, tapi ia menyadari kelemahan posisinya. Dia dipanggil murid Nabi Isa as, sekalipun ia mengaku memiliki akses kepada Nabi Isa as. melalui wahyu, tetapi dia tetap memerlukan seseorang yang pernah hidup bersama Nabi Isa as. untuk menyertainya dalam perjalanan-perjalanannya di kalangan orang-orang Gentile. Seorang teman yang merupakan saksi langsung kehidupan Nabi Isa as, akan memberikan kepadanya dukungan yang sangat bernilai dan bisa mendukung argumen-argumennya dengan kewibawaan tambahan. Untuk itu dia memujuk Petrus untuk bergabung dengannya. Kedua orang yang dahulunya saling bermusuhan dengan tajam, dan sekarang bisa bersatu adalah suatu hal yang mengejutkan. Tetapi situasi telah berubah. Sekarang Paulus telah diterima oleh orang banyak sebagai seorang Kristian dan tidak lagi dipandang sebagai penyiksa. Maka benarlah apa yang telah dikatakan oleh Nabi Isa as. dalam Injil Matius: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan berkata: ‘Akulah Mesias’ dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” (Matius 24:4-5) Apa yang diucapkan Nabi Isa as. itu terbukti, bahwa ada orang mengaku Rasul yang diutus olehnya dengan mendapat bimbingan dari Roh Kudus. Tetapi rasul palsu ini mengajarkan dogma yang bertentangan dengan ajaran Nabi Isa As. Beberapa contoh perbedaan ajaran Nabi Isa as. dan Paulus: Ajaran Nabi Isa As Ajaran Paulus Nabi Isa as. sunat (Lukas 2:21) Paulus melarang sunat (Roma 2:29; Galatia 5:2). Nabi Isa as. menyuruh agar manusia menyembah Allah Paulus mempertuhankan Nabi Isa As. Nabi Isa as. tidak pernah mengajarkan dosa waris pada manusia. Nabi Isa as. mengajarkan orang untuk bertaubat sendiri, bukan pada dirinya, (Matius 18:1-3 dan Lukas 16:19-29). Di Al-Kitab tertulis bahawa seseorang itu tidak menaggung dosa orang lain (Matius 16:21 dan Yehezkiel 18:20). Paulus yang mengajarkan dosa waris (lihat Surat Paulus di Rum 5:12-15). Maka jelaslah bahwa “dosa waris” tidak pernah diajarkan Nabi Isa as. tapi pelopornya adalah Paulus. Mengenai anggapan dan ajaran Paulus bahwa Nabi Isa as. sebagai penebus dosa Nabi Adam as. dan Hawa beserta keturunannya ini, mengapa kesalahan dan dosa Nabi Adam as. dan Hawa karena mereka memakan buah kuldi/apel di surga harus ditimpakan kepada Nabi Isa as. seorang? hal ini tentu tidaklah adil, dengan alasan : Bukankah Nabi Isa as. belum lahir ketika Nabi Adam as. dan Hawa melakukan dosa, kenapa beliau yang harus menebus dosa atas kesalahan yang yang tidak dilakukannya? Kenapa dosa Nabi Adam as. dan Hawa tidak ditimpakan kepada nabi-nabi dan rasul sebelum Nabi Isa as, sehingga menurut azas keadilan dosa itu seharusnya dibagi rata? Jika Nabi Adam as. dan Hawa turun ke bumi masih membawa dosa, maka seharusnya bunda maria (Mariam Putri Imran) juga turut menanggung dosa mereka, padahal yang sebenarnya beliau adalah wanita yang suci. Menurut orang nasrani isa (Nabi Isa as) telah wafat, sedangkan umat manusia sepeninggal beliau melakukan dosa setiap hari. Apakah adil jika beliau yang harus menebus dosa? Dalam hal “dosa estafet” ini, sebenarnya Allah SWT telah menjelaskan di dalam Al-Quran Surat Thaaha ayat 122, bahwa sesudah Nabi Adam as. dan Hawa melakukan kesalahan, kemudian keduanya memohon ampun kepada-Nya dan Allah mengampuni dosa mereka . Dari hal-hal diatas ternyata tidak mudah bagi manusia mengubah-ubah kitab suci, sebab terbukti di kemudian hari, cukup banyak hal-hal yang tidak konsisten dan tidak masuk akal antara kitab Bibel satu dengan lainnya, atau antara pasal satu dengan lainnya di dalam kitab yang sama. Menurut Al-Maududi (1903-1979) salah seorang teolog muslim yang paling berpengaruh di abad 20, perubahan isi kitab injil ini, dengan mengurangi atau menambah kalimat-kalimat yang terdapat di dalamnya, dilakukan dalam jumlah yang sangat besar dan terang-terangan, sehingga umat nasrani sendiri mengakui bahwa mereka tidak lagi memiliki kitab yang asli dan hanya memiliki terjemahannya saja. Dalam perjalanan yang berabad-abad lamanya, naskah inipun telah mengalami banyak perubahan. Apakah kitab suci yang telah dirubah oleh manusia masih dapat disebut kitab suci? Bukankah ini yang dinamakan Pesan Tuhan yang tak tersampaikan? HIKMAH KEPADA NABI ISA AS Hampir dapat dipastikan, sebagian besar umat Kristiani yakin dan percaya bahwa Nabi Isa as. mati pada usia sekitar 33 tahun. Sementara didalam Al-Kitab (Bible), yang tertulis hanya kisah Nabi Isa as. sejak dia dilahirkan sampai berumur 12 (dua belas) tahun, lalu menghilang ketika berumur 13 (tiga belas tahun sampai dengan 29 (dua puluh sembilan) tahun, kemudian muncul lagi pada usia 30 (tiga puluh) tahun dan mati pada usia 33 (tiga puluh tiga) tahun. Hilangnya kisah Nabi Isa as. ketika beliau berumur 13 s/d 29 tahun, berarti selama 17 (tujuh belas) tahun kisah Nabi Isa as. tidak ada atau hilang dan tidak tercatat di dalam Al-Kitab. Jika masa hidup Nabi Isa as. selama 33 tahun, sementara kisahnya ada yang hilang selama 17 tahun, berarti yang masuk dalam Al-Kitab hanyalah kisah Nabi Isa as. selama 16 tahun saja, itupun dipotong masa kanak-kanak. Nabi Isa as. dipercayai oleh umat Kristiani sebagai “Firman Yang Hidup”. Kalau begitu berarti ada sebagian besar atau lebih separuh dari umurnya ada “Firman Yang Hilang”. Bayangkan saja, 17 tahun adalah lebih separuh umurnya Nabi Isa as, hilang atau tidak tercatat dalam kitab Injil. Padahal pada usia 13 s/d 29 tahun merupakan usia Nabi Isa as. ketika remaja menuju dewasa dan sudah tentu banyak sekali hal-hal atau peristiwa yang lebih berguna dan lebih besar yang mungkin saja beliau lakukan, tetapi tidak tercatat didalam Al-Kitab. Sangatlah beralasan sekali bahwa Injil itu dikatakan tidak komplit atau tidak sempurna, karena banyak bagian-bagian atau sisi-sisi lain yang pernah Nabi Isa as. lakukan atau perbuat, tetapi tidak dicatat oleh para penulis Injil, karena kehilangan jejak atau kisahnya benar-benar hilang. Seandainya jika murid-murid Nabi Isa as. selalu mengikuti kemana saja Nabi Isa as. berdakwah, tentu apa yang beliau lakukan atau sabdakan selama 17 tahun, mereka tulis dalam Injilnya. Jadi apakah yang diperbuat Nabi Isa as. selama 17 tahun itu? Selama ini tidak seorangpun mampu menuliskah biografi lengkap tentang Nabi Isa As. Banyak orang mempunyai pandangan yang salah ketika meyakini bahwa Injil-Injil Perjanjian Baru memberikan biografi-biografi yang cukup lengkap, justru yang terjadi adalah sebaliknya. Markus baru memulai kisah tentang nabi Isa as. ketika ia berumur 30 tahun. Ketika Injil Markus memasuki pasal yang ke 8, kira-kira titik tengah dari teks yang berjumlah 16 pasal ini, jalan cerita sudah memasuki minggu terakhir dari kehidupan Nabi Isa As. Matius dan Lukas menambahkan kisah-kisah seputar kelahiran Nabi Isa as. dan juga menambahkan lebih banyak menambahkan bahan-bahan pengajaran dari Nabi Isa as, namun pada dasarnya kedua Injil ini juga mengikuti teladan Markus. Mereka memberikan setengah bagian dari catatan mereka bagi perjalanan terakhir Nabi Isa as. menuju ke Yerusalem, dimana ia disalibkan. Injil Yohanes dimulai ketika ia berumur 30 tahun dan Injil ini pun memfokuskan setengah dari kitabnya ini pada hari-hari terakhir Nabi Isa as. di Yerusalem. Dalam Injil Barnabas pun yang berisi 222 pasal, pada pasal 9 menceritakan kisah Nabi Isa as. pada umur 12 tahun, sedangkan pada pasal 10 cerita lompat pada umur 30 tahun ketika menerima wahyu di atas bukit zaitun. Setiap umat Nasrani atau bahkan hampir semua umat manusia di dunia mempercayai bahwa Nabi Isa as. adalah seorang Tukang Kayu atau paling tidak anak dari seorang tukang kayu. Asumsi ini didasarkan pada lusinan Injil-Injil yang memberi konfirmasi atas fakta ini. Kesan yang menyebar luas ini hanya didasarkan pada satu frasa yang termuat dalam satu ayat dari Markus, dimana para penduduk Nasaret bertanya mengenai Nabi Isa as. “Bukankah Ia ini tukang kayu? (Markus 6:3). Matius mengebah frasa ini menjadi “Bukankah ia ini adalah anak tukang kayu”(Matius 13:55). Semenjak edisi terjemahan Perjanjian Baru karya William Tyndale di tahun 1526, kata “tekton” dalam bahasa yunani diartikan dalam bahasa inggris “carpenter” (tukang kayu) adalah merupakan terjemahan yang keliru. Karena kata “tekton” adalah sebuah istilah generik yang merujuk pada seorang “tukang bangunan”. Pekerjaan ini biasanya dipandang sebagai pekerjaan yang membutuhkan kerja keras dan kekuatan fisik, hanya cocok bagi kalangan kelas bawah, sehingga fakta ini memperburuk status sosial pada kehidupan Nabi Isa as. ketika ia mulai berdakwah seperti diterangkan dalam Injil Matius di bawah ini.. 54. Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?. 55. Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? (Matius 13:54-55). Dari keterangan Injil diatas terlihat dengan sangat jelas bahwa Nabi Isa as. telah pulang ke tempat tinggal ibunya di nasaret, yang artinya telah melakukan sebuah perjalanan panjang seperti berkelana ke daerah yang jauh sehingga informasi tentang Nabi Isa as. tidak diketahui oleh penduduk Nasaret pada waktu kepulangannya. Jika dalam perantauan itu jaraknya tidak jauh dari nasaret seperti di Yerusalem maka kemungkinan masih terdengar informasi tentang keberadaannya di nasaret sehingga orang-orang nasaret tidaklah takjub dengan kepulangan Nabi Isa As. Dan apabila dalam tahun 9 - 26 M Nabi Isa as. tinggal di Nasaret ataupun di wilayah sekitar Palestina dan Yordan, maka tentulah ada catatan sejarah atau bukti yang seharusnya ditulis. Walaupun Nabi Isa as. tidak mengatakan kepada para muridnya dimana ia pada tahun-tahun yang hilang tersebut maka seharusnya para murid yang mencatat Injil pada tahun 64 M (Injil Markus merupakan Injil yang paling awal ditulis) mengetahui dari penduduk nasaret dengan menanyakan kepada tetangganya di nasaret, atau jika Nabi Isa as. ikut serta bekerja sebagai tukang bangunan di kota Yerusalem, tentulah relasi kerja, pimpinan proyek atau siapapun yang menyaksikannya di Yerusalem memberikan keterangan tentang keadaannya sehingga dapat dicatat di Injil, karena berselang waktu sekitar 40 tahun antara pencatatan Injil dan tahun-tahun yang hilang bisa mungkin masih ada saksi hidup di daerah awal penyebaran Kristen pada waktu itu yang dapat menceritakan masa muda Nabi Isa As. Tetapi kenyataannya tidak ada sama sekali catatan, bukti atau peninggalan sisa-sisa mengenai tahun-tahun yang hilang tersebut bahwa Nabi Isa as. berada di Nasaret atau Yerusalem. Hal ini menyimpulkan bahwa Nabi Isa as. berada di luar Nasaret atau Yerusalem bahkan wilayah-wilayah penyebaran awal Nasrani di sekitar Roma, Yunani dan Persia pada waktu itu. Ada beberapa pendapat yang selama ini menjadi mitos dari beberapa masyarakat tertentu tentang tahun-tahun yang hilang ini. Polemik dari yahudi yang mengusung ide bahwa Nabi Isa as. pernah berkelana di Mesir dan belajar Ilmu Magis disebutkan oleh seorang filusuf Yunani bernama Celcus. Ia juga menyebutkan kisah tetntang seorang serdadu romawi bernama Pantera adalah ayahnya. Ada juga legenda yang menyatakan bahwa Nabi Isa as. berkelana di India untuk belajar dari para guru Hindu, dan di India ia memperoleh kemampuan-kemampuan yang luar biasa. Ada lagi yang menarik tentang kisahnya berkelana bersama Yusuf yang disebut sebagai paman Maria ke Inggris Raya melakukan perjalanan dagang timah ke Cornwall, kota Glastonbury yang terletak di wilayah pulau Avalon di barat daya Inggris tempat dimana Raja Artur dimakamkan, saat ini menjadi sebuah pusat peziarahan yang popular. Dari beberapa pendapat tersebut yang sebelumnya adalah sebuah mitos atau legenda, pastilah dapat menjadi berita kebenaran jika terdapat catatan, bukti atau peninggalan sisa-sisa tersebut. Jadi adakah bukti Nabi Isa as. pernah berkelana di Mesir, India, Atau Inggris? Sebelumnya mencari bukti tersebut, alangkah baiknya kita mengetahui sejarah bagaimana kondisi umat Nabi Isa as. pada waktu kelahirannya di bumi. Dimasa kelahiran Nabi Isa as. ke dunia, Jerusalem berada di bawah kekuasaan penindas kekaisaran romawi. Berbagai aliran muncul dalam masyarakat yahudi, yang menafsirkan agama mereka secara berbeda-beda. Kebanyakan orang telah berpaling dari agama sejati yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa as. dan perilaku takhayul serta kepercayaan sesat merebak di masyarakat. Lebih lagi budaya penyembah berhala Yunani mulai menampakkan pengaruhnya. Singkatnya masa turunnya Nabi Isa as. adalah masa bani israil sedang mengalamui kesulitan-kesulitan besar politik, ekonomi dan sosial. Di satu sisi ada masalah hidup di bawah belenggu romawi, dan di sisi lain perpecahan diantara berbagai alairan dan kepercayaan, dalam suasana kacau seperti itu kaum yahudi mencari cara agar selamat dan menantikan seorang juru selamat. Jauh sebelum kelahian Nabi Isa as, yaitu setelah Nabi Sulaiman as. meninggal, kerajaan Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan terdiri dari dua suku yaitu Yehuda dan Benjamin yang kemudian dikenal dengan nama Yehuda atau Yahudi. Kerajaan Israel Selatan ini disebut Yehudah, ibukotanya di Yerusalem, dan daerahnya dinamai Yudea. Bagian utara terdiri dari 10 suku, disebut sebagai Kerajaan Israel Utara atau Kerajaan Samaria, ibukotanya di Samaria. Kata "Yahudi" dipakai untuk menyebut keturunan dari kerajaan selatan ini, yang akhirnya membentuk negara Israel modern, dengan demikian merujuk pada orang Israel di abad ini. Dalam perjalanan sejarah, 10 suku tersebut kehilangan identitas kesukuan mereka. Kerajaan Israel Utara tidak lama bertahan sebagai sebuah negara, dan akhirnya hilang dari sejarah. Konon ketika penaklukan dilakukan bangsa Assyria, banyak orang dari Kerajaan Israel Utara yang ditawan dan dibawa ke sebelah selatan laut Hitam sebagai budak. Sebagian lagi lari meninggalkan asalnya untuk menghindari perbudakan. Sementara itu Kerajaan Yehudah tetap eksis hingga kedatangan bangsa Romawi. Setelah pemusnahan Yerusalem pada tahun 70 oleh tentara Romawi yang dipimpin oleh jenderal Titus dan Vespasianus. Orang-orang Yehudah pun banyak yang meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain, tersebar diseluruh dunia. Dan jauh sebelum itu, ketika masa pembuangan Babilon berakhir dan orang-orang Yahudi diijinkan kembali ke negerinya, dan sepuluh suku Israel dari Kerajaan utara memilih tidak pulang tetapi meneruskan berkelana kearah Timur. Demikian juga dengan mereka yang diperbudak di selatan laut Hitam, setelah masa perbudakan selesai, tidak diketahui kemana mereka pergi melanjutkan hidup. Dengan demikian banyak diantara bangsa Israel kuno kemudian kehilangan identitas mereka sebagai orang Israel. Ada sekelompok penduduk di daerah Tiongkok barat, diterima sebagai puak Cina, tetapi secara umum profil wajah mereka agak berbeda dengan penduduk Cina pada umumnya. Perawakan mereka lebih besar, hidung agak mancung, namun berkulit kuning dan bermata sipit. Mereka menyembah Allah yang bernama Yahwe. Sangat mungkin mereka adalah keturunan dari sepuluh suku Israel yang hilang yang telah kawin campur dengan penduduk lokal sehingga kulit dan mata menjadi seperti penduduk asli. Ada juga cerita bahwa orang-orang/penduduk Afganistan dan Kasmir India mereka adalah sisa-sisa keturunan bani Israil, mereka kini dikenal sebagai bangsa Afgan atau suku Kasmir, dan kini mereka kebanyakan memeluk agama Islam. Nabi Isa as. adalah seorang Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah untuk Bani Israil, sedangkan ia terlahir di tanah Yudea (yahudi). Nabi Isa as. memiliki perbedaan dengan nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain adalah menjadi seorang nabi dan rasul semenjak dilahirkan, hal ini sama halnya dengan Nabi Adam as. menjadi nabi dan rasul semenjak diciptakan. Terbukti bahwa Nabi Isa as. berbicara menyampaikan sebuah kebenaran kepada Manusia semenjak masih dalam ayunan, hal ini adalah mukjizat yang diberikan Allah SWT kepadanya, dan mukjizat hanyalah diberikan kepada para nabi dan rasul. Bani Israil adalah sebutan untuk keturunan Nabi Ya’kub as, yaitu keturunan dari 12 anaknya. Yahuda adalah 1 diantara 12 suku yang disebut bani israil, sedangkan di sekitar Yerusalem hanya terdapat 2 suku dari keturunan Yahuda dan Bunyamin, oleh karena itu ada kemunginan bahwa nabi isa melakukan perjalanan ke timur menyerukan Pesan Allah SWT kepada 10 suku dari bani israil yang telah menyebar di daerah timur. Dari pernyataan diatas penulis menyimpulkan bahwa Nabi Isa as. berkelana pergi ke India dan daerah-daerah lain di asia timur untuk berdakwah kepada bani israil yang berpetualang di asia timur setelah hancurnya kerajaan bani israil paska Nabi Sulaiman as. yang direbut oleh Raja Nebukanezar dari kerajaan Babilonia. Dari perjalanannya di berbagai kota di Asia Timur, Nabi Isa as. belajar budaya setempat dan mengajarkan cerita yang banyak mengandung hikmah untuk diteladani bagi umat manusia dan mudah diterima bagi kebudayaan timur pada waktu itu. Apa yang diajarkan Nabi Isa as. di India kemudian ditulis oleh penduduk setempat dalam berbagai bahasa di masing-masing tempat ia singgah. Selama beberapa Abad Umat Hindu (Non-Bani Israil) yang mendominasi keyakinan masyarakat di India melihat kenyataan bahwa apa yang diajarkan Nabi Isa as. (Wyasa), telah mengubah pola hidup masyarakat. Dan menjadikan banyak suku di India menjadi seragam yang menjadikan satu bangsa India. Maka mereka mengumpulkan tulisan-tulisan Wyasa tersebut dan diterjemahkan ke dalam bahasa sanskerta, kemudian kumpulan tulisan tersebut disusun dan dibukukan sehinnga menjadi sebuah kitab yang disebut Mahabharata. Kitab ini dijadikan Kitab Suci oleh umat Hindu dan dijaga keutuhannya sampai sekarang. Inilah alasan mengapa kitab Mahabharata merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang membutuhkan waktu empat abad untuk dikumpulkan dan dijadikan satu kitab. Mahabharata (Sanskerta: महाभारत) adalah sebuah karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa di India. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab), yang masing-masing terbagi lagi dalam beberapa bagian. Dan yang digubah dalam bentuk syair sebanyak 100.000 sloka. Isinya bermacam-macam, disisipkan dalam rangkaian cerita pokoknya. Cerita pokok meliputi 24.000 sloka dan sebagian besar menceritakan kisah konflik para Pandawa Lima dengan saudara sepupu mereka Seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Hastina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari, antara Pandawa dan Kurawa. Maka nama lengkap kitab ini adalah “Mahabharatayudha” yang berarti “peperangan besar keluarga bharata”. Maha berarti Besar, agung dan Bharata berarti Bharat, India, Hindi, Hindustan (seperti yang dikatakan oleh Biksu Tong untuk mencari Kitab Suci Bhuda ia berjalan ke “Bharat” dalam cerita klasik Legenda Sun Go Kong si kera sakti). Mahabharatayudha juga berarti Peperangan antara Keluarga atau Wangsa Bharata/India yang Agung/Besar. Menurut Michael Keene dalam bukunya World Religions bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang selesai dikumpulkan pada tahun ± 400 Masehi. Mahabharatayuda dapat menggambarkan sebuah kondisi peperangan besar di dalam tubuh manusia, yaitu perang hawa nafsu yang akan kami ulas panjang lebar dalam buku ini. Tetapi juga dapat mengambarkan kondisi peperangan besar di luar tubuh manusia, yaitu perang besar akhir zaman atau perang Armagadon yang insya Allah lebih lanjut akan kami bahas dalam buku berikutnya dengan judul “Rahasia dibalik Angka 13 dalam Kitab Mahabharata”. Kitab Mahabharata sebenarnya adalah sebuah pesan atau surat dari Allah SWT melalui Nabi Isa as. yang ditujukan kepada seseorang dan bangsa yang tidak satu zaman sehingga kini sudah melewati masa ± 1600 tahun dari penyusunan dalam sebuah kitab dan sudah ± 2000 tahun dari penulisannya yang pertama kali. Karena ditujukan pada seseorang dan bangsa yang bukan zamannya (Abad 1 M) dan agar isi pesan/surat tidak berubah hingga zaman yang dimaksud, untuk itu pesan ini kemudian dibungkus dengan Simbolis berbentuk cerita yang sangat menakjubkan, sehingga isi surat atau pesan ini tersimpan aman dari generasi ke generasi. Cerita yang tertera pada kulit luarnya atau sampulnya dibaca, ditelaah dan diteladani sebagai pedoman kehidupan bermasyarakat di India. Dengan hadirnya Kitab Mahabharata di India yang pada saat itu disebut dengan negeri Bharat secara tidak langsung telah mempersatukan sejumlah besar suku-suku di Bharat (India) menjadi satu bangsa, terlepas kasta, ruang dan bahasa yang nampaknya menciptakan perbedaan, sehingga selama berabad-abad manusia menganggap bahwa apa yang tertulis di kulit luar adalah juga merupakan isi dari surat tersebut. Hal ini seperti buah kelapa yang dikirim untuk manusia di zaman yang akan datang, yang akan melewati generasi demi generasi, manusia yang dilewatinya sesungguhnya "haus dan lapar" dan memerlukan buah dan aimya, tetapi ketika buah kelapa terpegang ditangan, ia menjadi terkesima dan takjub akan kedasyatan cerita yang tertulis di sabutnya, ia lalu membaca dan menelaah kemudian merefleksikan nilai-nilai yang tertulis di epos Mahabharata dalam kehidupannya, sebingga ia merasa "kenyang dan hilang dahaga", sebelum ia sempat membelahnya dan memakan buahnya atau meminum airnya. Inilah yang terjadi dari generasi ke generasi, bangsa demi bangsa, persis seperti yang dikehendaki oleh penulis epos ini, agar isi pesan/surat "sampai" di akhir zaman dengan selamat. Nabi Isa as. atau Begawan Abiyasa/Wyasa penulis kitab Mababharata ini, meriwayatkan tentang dirinya sendiri (biografi), beserta asal-usul bangsanya atau nenek moyangnya, dimana ia pada akhirnya diperankan dan hal-hal yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Ia adalah seorang hamba yang patuh pada Allah SWT, Ia menjadi "wayang" yang baik bagi “Sang Dalang Sejati” sebagai lakon atau pelaku dalam “Skenario Besar” yang telah disusun oleh “Sang Dalang Sejati”, sehingga pada waktunya ia pun melaksanakan perintah Allah SWT mengirimkan sebuah pesan dariNya untuk disampaikan kepada sekelompok manusia yang dikehendakiNya dapat membuka segel-segel pesan/surat dan mengetahui isi pesan tersebut. Abiyasa adalah sebagai penulis dan sekaligus sebagai salah satu pelaku atau tokoh yang ditulisnya sendiri, akan hadir ditengah-tengah umat manusia untuk memimpin manusia setelah turun dari Sapto Argo (Gunung Tingkat Tujuh) sebagaimana yang telah ia tulis dalam kitabnya. Kehadirannya akan menjadi wayang bagi Tuannya, dalam realitas kehidupan di dunia sebagai hamba yang shaleh dihadapan Allah SWT, untuk melanjutkan misinya yang tertunda dua ribu tahun yang lalu, dan kemudian menjadi Hakim yang Adil sebagai pasangan dengan Al Mahdi Imam yang Mendapat Petunjuk di akhir zaman. kitabnya “Mahabharata” yang berisikan pesan-pesan Allah SWT dikirim kepada umat manusia di akhir zaman sebagai pasangan dari kitab yang dipegang oleh Imam Al Mahdi yaitu Al-Qur'an dan Al Hadits Rasulullah SAW. Nabi Isa as. selain menulis, memaparkan dan menerangkan dirinya sendiri sebagai pribadi keturunan Bani Israil/Yahudi (dengan nama Abiyasa), Ia juga memaparkan tentang ajaran dan perjalanan hidupnya dengan memanfaatkan dan mempergunakan ajaran leluhur warisan Ibrani/tradisi Yudaisme, contohnya saudara laki-laki yang belum menikah wajib menikahi janda saudaranya kakak atau adik untuk melanjutkan dan melangsungkan keturunan atas nama saudaranya, laki-laki boleh memperistri wanita bersaudara/kakak beradik dalam waktu bersamaan, laki-laki diwajibkan berkeluarga atau dilarang berselibat/membujang, yang terakhir ini sekaligus untuk menepis ajaran dari Nasrani yang hidup berselibat. Jika saja kitab Mahabharata dan Al Qur’an dan Hadis Rasulullah SAW dalam Surat 2 Al Maidah, Surat 3 Ali Imran, Surat 4 An-Nisa, Surat 19 Maryam, Surat 21 An Nabiya, Surat 66 At Tahrim dan semua hadist-hadist yang mengkabarkan kisah Maryam dan Nabi Isa as. (putranya) ditaruh dan dibaca di meja yang berlainan pada waktu yang beda, kedua kitab itu tidak ada sangkut pautnya. Namun jika dibaca dimeja yang sama dan waktu yang sama, akan terlihat banyak kesamaan kisah-kisah walaupun tertulis dengan nama dan tempat yang berbeda. Selama ini kisah Nabi Isa as. banyak menjadi bahan perdebatan, sekaligus keragu-raguan tentang “penyalibannya” dikalangan umat Nasrani. Ternyata Nabi Isa as. telah menulis dan memaparkan peristiwa tersebut jauh sebelum kejadian dan sama persis seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an. Hal ini dimungkinkan karena Nabi Isa as. telah mengetahui kelemahan karakter bangsanya, nabi-nabi dan rasul-rasul utusan Allah untuk bani israil telah banyak dibunuh bangsanya sendiri, kemudian merubah ajaran yang telah ditetapkan Allah. Maka Nabi Isa as. melakukan perjalanan ke India antara usia ± 13 tahun hingga usia ± 30 tahun dalam rentang waktu ± 17 tahun, menulis riwayat bangsanya, biografi dirinya dalam bahasa Sansekerta dan disusun dengan latar budaya Hindu dengan maksud disembunyikan. Kitab ini ditinggalkan di Hindustan dan kemudian hari dijadikan kitab suci agama Hindu. Sesungguhnya kitab Mahabharata lebih dekat disebut sebagai “hadits” Nabi Isa as. dan kitab Bhagawatgita lebih dekat disebut sebagai “Wahyu/Firman Allah SWT” atau “Pesan/Surat Kabar Allah SWT”. Itulah sebabnya Nabi Isa as. memaparkan ajarannya yang sama dan sesuai dengan ajaran Islam, seperti yang dikabarkan oleh Rasulallah SAW, bahwa Nabi Isa as. akan turun di akhir zaman untuk membenarkan ajaran Islam dan menyerukan kepada seluruh manusia untuk masuk Islam, yang disimbolkan dan disamarkan dengan nama lain dari dirinya sendiri “Maharaja Krisnadwipayana” sebagai Juru Selamat dunia yang turun ke dunia di akhir zaman di kurun abad ke 15 hijrah atau abad 21 Masehi (melihat sudah banyak terjadi tanda-tanda yang telah dikabarkan Rasullallah SAW akan turunnya Nabi Isa as. di akhir zaman), dan juga dengan namanya yang lain lagi yaitu Arjuna yang berarti ruh yang dikuatkan dengan “Ruhul Kudus” sebagai “Ruh Keberanian”, disimboloiskan sebagai reinkarnasi Batara Wisnu berarti “Sang Juru Selamat, Pelindung Dunia” yang akan turun ke dunia bersamaan dengan Krisna sebagai “Ruh Kebijaksanaan”. Mereka berdua akan berduet/berpasangan memimpin peperangan besar Bharatayuda di akhir zaman (kemungkinan perang Nuklir, Perang Dunia III, perang akhir zaman yang telah banyak diramalkan) dan akan membangun kembali dunia pasca Bharatayuda bersama Al Mahdi dan Pemimpin Agung Negeri, untuk membangun “Negeri Madani, Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghofur, Negri Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Kerta Tur Raharja, Kerajaan Allah, zaman keemasan bagi Umat Islam. Kisah Nabi Isa as. turun ke bumi diceritakan dalam Mahabharata ketika Abiyasa mulai dari bertempat tinggal di Sapta Arga dan turun ke Hastinapura sebagai Maharaja Krisnadwipayana. Dan semua kisah tentang keturunannya sebagai sambungan Wangsa Bharata hingga zaman Abimanyu adalah simbol-simbol untuk menerangkan ajaran atau perjalanan hidupnya sendiri. Maka inilah yang disebut Pelajaran Hikmah yang diajarkan Allah SWT kepada Nabi Isa as, dan pada akhir zaman Pelajaran Hikmah yang “tersegel/terkunci” selama berabad-abad tersebut akan terbuka oleh Kitab Allah SWT yang lain yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW yaitu Al-Qu’ran. Sebenarnya pada abad ke-7 Rasulallah SAW telah menyampaikan berita tentang suatu kitab Hikmah yang merupakan salah satu dari banyak mu’jizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa as. melalui Al-Qur’an dalam ayat berikut : " (Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu MENULIS, HIKMAH, TAURAT dan INJIL, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata." (Al-Maidah 5 : 110) Dari satu ayat diatas Allah SWT memberikan penjelasan tentang mu’jizat-mu’jizat yang dikaruniakan Allah SWT kepada Nabi Isa as, yaitu : Allah SWT menguatkan Nabi Isa as. dengan Ruhul Qudus. Nabi Isa as. dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa Aku mengajar Nabi Isa as. MENULIS, HIKMAH, TAURAT DAN INJIL, Nabi Isa as. membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin Allah SWT, kemudian Nabi Isa as. meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya). Nabi Isa as. menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin Allah SWT Nabi Isa as. mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin Allah SWT Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala Nabi Isa as. berdakwah Dalam surat ini tidaklah sesuai jika salah satu poin diartikan sebagai bukan mu’jizat. Terutama dalam poin 3 yang terdapat didalamnya mu’jizat dalam bentuk Kitab Suci (Firman/Perkataan Allah SWT), penulis melihat di beberapa tafsir Al-Qu’ran seperti dalam Tafsir Ibnu Katsir poin 3 ini, dibagi dua poin, kata Menulis, Hikmah ditafsirkan “Yakni diajarkan menulis dan diberi pemahaman” dan kata Taurat dan Injil ditafsirkan “Yakni kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa ibnu Imran yang dijuluki sebagai Kalimullah (orang yang pernah diajak berbicara langsung oleh Allah Swt). Adakalanya lafaz Taurat disebutkan di dalam hadis, tetapi makna yang dimaksud lebih umum daripada itu” Di dalam banyak tafsir-tafsir lain kata “Menulis” (Al-Kitab) ditafsirkan Al-Qur’an dengan alasan bahwa kata Al-Kitab dalam banyak kata-kata di Ayat lain merujuk arti Al-Kitab adalah Al-Qur’an, tetapi kata selanjutnya Hikmah ditafsirkan Kenabian. Suatu hal yang tidak logis jika dalam poin 3 ini ada empat kata yaitu Menulis, Hikmah, Taurat, Injil, tiga kata (Menulis, Taurat, Injil) ditafsirkan Kitab Suci, sedangkan satu kata (hikmah) ditafsirkan bukan Kitab Suci. Dalam penafsiran seperti tersebut diatas juga menimbulkan pertanyaan bahwa benarkah “Kenabian” adalah bentuk dari “Mu’jizat”? sedangkan selama ini kita banyak mendengarkan kata “Mu’jizat kenabian dari Nabi A adalah …”. Jika Tafsir dari Al-Kitab adalah Al-Qur’an tentunya Nabi Isa as. akan belajar Al-Qur’an pada saat hidup didunia untuk ke dua kalinya (di akhir zaman) karena Al-Qur’an diturunkan 7 abad setelah kelahiran Nabi Isa As. Dan jika Tafsir dari Al-Kitab adalah menulis maka tentulah ada suatu obyek yang ditulis, Nabi Isa as. adalah subjek, menulis adalah predikat, dan Kitab Suci (Hikmah, Taurot, Injil) adalah obyek. Jadi hikmah adalah kitab suci yang memuat kisah-kisah sehingga manusia yang mendengarkan akan mendapatkan hikmah dari cerita yang didengar, itulah kitab yang disebut Mahabharata setelah Nabi Isa as. yang menulis kitab tersebut atas bimbingan Allah SWT naik ke langit. Ada tiga kitab yang ditulis oleh Nabi Isa as, pertama Kitab Hikmah atau Kitab Mahabharata (nama sekarang) ditulis untuk umat di akhir zaman, kitab ini digunakan sebagai alat dalam misi kehidupan kedua Nabi Isa as. di akhir zaman kitab ini ditulis pada saat Beliau menghindar dari umat yahudi di usia remaja sehingga tidak ada seorangpun dari umat yahudi mengetahui tentang riwayat dan catatan Beliau di masa remaja, hal ini dikarenakan jika kitab ini diketahui oleh bangsa yahudi pastilah dikemudian hari akan dirubah sesuai kepentingan yahudi (bukan kepentingan Allah SWT) sebagaimana kitab-kitab suci dalam sejarah sebelum Nabi Isa As. Kedua Kitab Taurot ditulis ketika Nabi Isa as. mengunjungi Yahya bin Zakarya di sungai yordan ketika yahya pergi ke palestina, kitab ini ditulis untuk meluruskan kembali ajaran kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa as. ibnu Imran dimasa sebelum Nabi Isa as. lahir. Dan Ketiga kitab Injil dituliskan ketika Nabi Isa as. berdakwah kepada Umat yahudi ditemani ke-12 muridnya (hawariyyun) sampai diangkatnya ke langit, kitab ini (Injil) digunakan sebagai alat dalam misi kehidupan pertama Nabi Isa as. di abad 1 untuk menghadapi umat yahudi pada masa saat itu. Ada suatu isyarat yang disampaikan dalam hadis Rasulallah SAW tentang kitab yang memberikan pengetahuan dan hikmah ini yang diutarakan sebagai berikut berikut : Carilah ilmu walaupun ke negeri China, karena sesungguhnya mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim. Selama ini banyak terdengar di telinga kita bunyi hadis tersebut adalah “belajarlah walaupun sampai ke negeri cina”. Jika hadis tersebut mengandung unsur penekanan “wajib” seperti yang tertulis pertama maka akan menimbulkan pertanyaan, mengapa wajib belajar di cina? Ada apa di cina? Bukankah semua keilmuan seperti keagamaan, sosial, militer, perdagangan, dan semuanya telah lengkap dan lebih maju di daerah jazirah Arab yang diapit oleh dua kebudayaan besar (negara adidaya) Romawi dan Persia? Dan sangat tidaklah mungkin Rasullallah SAW menyuruh umat Islam untuk belajar ajaran Kong Hu-Cu, Taoisme, Konfusianisme yang tidak ada di Arab. Hal ini dikarenakan Rasullallah SAW menyuruh untuk mempelajari ajaran Nabi Isa as. yang ditinggalkan di Cina yaitu Kitab hikmah yang semula ditulis dalam perjalanan hidup Isa as. saat usia remaja, dalam perjalanannya meninggalkan yerusalem selama 17 tahun bersinggah di kota Bectra (Afganistan), Lahore (Pakistan), Palitana (India barat), Juggernaut (India Timur), Kapilavastu (Nepal) dan berakhir di Lasha (Tibet) yang termasuk daerah Cina. Sebagian besar dari tempat-tempat yang disinggahi Isa as. tersebut terdapat suku-suku bani israil yang menyebar ke Asia seperti suku Yusufzai di Afghanistan, keturunan Yusuf as, suku Kashmir menetap di kasmir Pakistan, suku Pathans menyebar di Afghanistan, Pakistan dan India Barat, suku Knanites salah satu bani israil yang bermigrasi dari Kanaan ke India Barat, suku Menashe atau Manasseh yang menyebar di daerah Nepal, Bhurma dan Tibet. Tentulah Nabi SAW membatasi pencarian ilmu tersebut sampai di negeri cina karena jika seorang muslim mengikuti perjalanan Isa as. tersebut mulai dari tanah Arab ke Cina pastilah akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan dari kitab Hikmah yang ditinggalkan Nabi Isa as. di kota-kota tersebut. Tentulah hadis Rasul diatas berhubungan dengan hadis berikut : "Saya lebih dekat dengan Isa anak Maryam di dunia dan di akhirat. Semua nabi-nabi itu bersaudara karena seketurunan. Ibunya berlainan sedangkan agamanya satu" (HR. Bukhari No. 1501). Kata di dunia tersebut mengartikan ada keterkaitan duniawi antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa As. Jika keterhubungan dunia antara keduanya dihubungkan melalui jalur darah (keturunan), maka tentulah Nabi SAW tidak akan berkata lebih dekat dengan Isa as. tetapi lebih dekat dengan Ismail as, karena yang menyambungkan tali darah mereka adalah Ibrahim As. Keterkaitan duniawi yang dimaksud adalah kesamaan ajaran yang diajarkan oleh keduanya di dunia sehingga jika keduanya dipadukan maka ajaran tersebut tidaklah bertentangan dan bahkan akan saling membenarkan. Terbukti, semua nabi mengajarkan aqidah yang sama, yaitu Tauhid (mengesakan Allah), bahwa Tuhan itu Esa, bukan tiga, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Didalam Al Quran Allah menegaskan artinya: Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab : "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu".(Ali Imron : 81) Maka di akhir zaman kedua kitab ini akan berpadu, saling membenarkan, dan jika masih ada pertentangan penafsiran akan ke tidak paduan kedua kitab ini (Al-Qur’an dan Al-Hikmah) seperti banyak beberapa penafsiran pada abad-abad sebelum ini, maka belumlah pantas dinamakan akhir zaman sehingga akan datang Nabi Isa as. untuk hidup kedua kalinya di bumi.